Isu hangat yang menarik perhatian para ekonom dan pelaku bisnis di Indonesia saat ini adalah tentang Good Corporate Governance (GCG). Sejak adanya krisis finansial di berbagai negara di tahun 1997 -1998 yang diawali krisis di Thailand, Jepang, Korea, Indonesia, Malaysia, Hongkong dan Singapura yang akhirnya berubah menjadi krisis finansial di Asia ini dipandang sebagai akibat lemahnya praktik GCG di negara-negara Asia. Di samping itu, banyaknya kasus pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan emiten di pasar modal yang ditangani BAPEPAM menunjukkan rendahnya mutu praktik GCG di Indonesia. Terungkapnya kasus laporan keuangan yang overstated, yang melibatkan profesi akuntan, menunjukkan telah terjadi pelanggaran terhadap prinsip pengungkapan yang akurat (transparency) yang akibatnya sangat merugikan para investor. Isu GCG sesungguhnya sudah lama dikenal di negara Eropa dan Amerika dengan adanya konsep pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Pemisahan ini akan menimbulkan masalah karena adanya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan pihak manajemen sebagai agen. Dalam literatur akuntansi, pemisahan ini disebut Agency Theory (teori keagenan). Menurut teori ini hubungan antara pemilik dan manajer pada hakekatnya sukar tercipta karena adanya kepentingan yang saling bertentangan (Conflict of Interest). Pertentangan ini dalam Agency Theory disebabkan karena adanya informasi yang tidak seimbang yang disebabkan karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara pemegang saham dengan agen. Akibat adanya perilaku manajemen yang tidak transparan dalam penyajian informasi akan menjadi penghalang adanya praktik GCG pada perusahaan karena salah satu prinsip dasar dari GCG adalah Transparency (keterbukaan). Akuntan adalah salah satu profesi yang terlibat langsung dalam pengelolaan perusahaan. Keterlibatan akuntan mencakup dua pihak, yaitu internal dan eksternal. Keterlibatan internal terjadi bila akuntan menjadi salah satu bagian dari manajemen untuk melaksanakan fungsi sebagai penyedia informasi keuangan, sedangkan keterlibatan eksternal akuntan adalah bila akuntan menjalankan profesinya sebagai auditor yang bertugas untuk melakukan pemeriksaan atas kewajaran laporan keuangan. Profesi auditor dari para akuntan memainkan peran yang penting karena mereka memverifikasi kewajaran informasi yang mendasari dilakukannya berbagai macam transaksi bisnis pemakai laporan keuangan. Adanya kasus-kasus finansial yang melibatkan profesi akuntan merupakan bukti bahwa sikap independensi yang harus dimiliki oleh akuntan sulit untuk dipertahankan. Hal ini disebabkan para auditor atau akuntan ini memiliki tanggung jawab yang ambigious. Di satu sisi mereka harus bersikap dan bekerja untuk perusahaan yang membayar mereka, di sisi lain mereka harus memperhatikan kepentingan para investor yang bergabung sepenuhnya kepada kebenaran laporan audit mereka. Dari perspektif teori keagenan, skandal keuangan yang terjadi tidak hanya menggambarkan ‘kegagalan’ dari auditor eksternal dalam menjalankan fungsinya sebagai pihak yang bekerja untuk kepentingan prinsipal (pemegang saham), tetapi juga mengindikasikan tidak berfungsinya akuntan manajemen atau auditor internal yang bekerja untuk kepentingan agen. Hal ini dikarenakan salah satu fungsi utama auditor internal adalah menjamin berjalannya prosedur sebagaimana yang seharusnya dan mencegah terjadinya transaksi keuangan dan kecurangan lain yang menyimpang.

sumber: http://eprints.undip.ac.id/333/